Cerita ini berawal saat mudik lebaran kemarin. Saya melahirkan anak kedua pada bulan Juni. Berdasarkan pengalaman anak pertama saya Khalila, saya baru menabung asip pada saat satu bulan sebelum masuk kantor. Untuk anak kedua ini, saya sudah mulai memerah asip sejak satu minggu Rasyid dilahirkan. Alhamdulillah stok asip saya terkumpul lumayan banyak. Sebagian malah bisa diberikan ke si kakak Khalila yang masih berusia 18 bulan. Khalila pun tak menolak diberikan asip lagi walaupun dia maunya kalau asip itu ditaruh di botolnya.
 |
| Kakak Khalila |
Sampai akhirnya saya berpikir untuk pulang kampung walaupun Rasyid masih berusia satu setengah bulan. Saya menyiapkan keperluan untuk menjaga asip tetap dingin kalau terjadi mati lampu 2-3 jam. Samping kanan dan kiri freezer saya beri es batu untuk menjaga suhu kulkas tetap dingin. Biasanya di rumah kalau mati lampu tidak pernah terlalu lama. Saya pun mengabari tetangga kalau saya mudik saat lebaran dan meminta tolong untuk memberitahu seandainya lampu mati. Saya dan suami pun memutuskan untuk menitipkan rumah kepada petugas keamanan kompleks. Tapi percayalah bunda.. Satu hal yang perlu digaris-bawahi "Koordinasi dengan suami dan berilah penjelasan yang mendetil tentang kondisi rumah kita".
Awalnya mudik berjalan dengan lancar, suami sudah berpesan agar Joni memberi makan ikan di akuarium, menyiram bunga, dan mematikan lampu depan saat siang.
Alhasil, pada saat mudik kembali ke jakarta, suami baru terbayang, "bagaimana jika Joni mematikan lampu dari saklar listrik diluar yang menyebabkan semua aliran listrik mati!".Yaah, kalau benar demikian, pupus sudah harapan stok asip melimpah untuk Rasyid. Bisa dibayangkan kulkas setiap hari mati selama 12 jam, cair beku, cair beku kembali. Padahal Asip itu juga bisa diminum Khalila yang sekarang masih berusia 18 bulan. Hiks..Tapi, hal ini perlu dipastikan lagi ke Joni, bahwa lampu tidak mati.
Keesokan harinya setelah tiba di rumah, suami pun bertanya kepada Joni perihal lampu rumah. Dan ternyata seperti dugaan sebelumnya, Joni mematikan lampu dari saklar listrik diluar rumah karena dia takut untuk masuk rumah! Saya pun langsung shock, sekitar 40an botol asip di freezer sudah tidak bisa disimpan lagi. Pada awalnya saya mencoba menganalisa dari bekuan asip tersebut dan es batu yang saya taruh di samping kanan kiri kulkas. Saya lihat bentuknya tidak begitu berubah dari awal saya menaruhnya disitu. Saya lihat satu persatu bagian dari asip yang tersimpan. Tapi terdapat satu keganjilan, asip dalam botol membentuk gunungan. Yang saya kira itu adalah hasil dari cairnya asip sebagian dan sebagian lagi yang masih beku menyembul ke atas dan asip tersebut beku kembali pada saat joni menyalakan lampu di malam hari. Itu adalah hasil analisa logika ibu menyusui. Hehe...Daripada khawatir, saya pun mencoba icip-icip rasa asip tersebut, dan ternyata rasanya sudah langu dan ga enak. Rasanya eman (*bahasa jawa=sayang) mengetahui asip yang sudah dengan jerih payah saya kumpulkan tiap subuh dan sebelum tidur itu sia-sia.
 |
| Rasyid Usia 3 Bulan |
Dengan berat hati, saya keluarkan botol-botol asip yang sudah kadaluarsa tersebut. Dan sekarang yang tersisa semangat pumping kejar tayang karena harus memulai stok asip baru. Yang tersisa cuma sebagian asip dalam gambar saya ini. Ganbatte!
 |
| ASIP yang tersisa |