Parenting Keluarga
☀☀☀☀☀☀☀☀
Seorang anak, mengeluh kepada ibunya.
🔖 "Mamaaa. Aku capek. Aku mau udahan aja latihannya"
🔖 "Aku nggak bisa ah, Mam. Aku nyerah."
🔖 "Soalnya susah banget. Ga usah diterusin ah. Aku mau tidur aja, Mam."
🔖 "Iiiiih. Kok disuruh ngulang lagi sih, hafalannya. Aku kan udah bilang. Aku tuh bosen. Aku bisa migrain, kalau menghafal lagi menghafal lgi."
🔖 "Mama jangan maksa deh. Aku nggak minat, tahu nggak?"
Secara manusiawi, kita sebagai orangtua tentu merasa tak berkenan atau merasa kesal dengan spontanitas yang mereka sampaikan.
Namun yang perlu kita ketahui adalah bahwa apa yang mereka sampaikan adalah bagian dari bentuk EKSPRESI. Artinya, apa yang mereka ucapkan belum tentu SEDRAMATIS apa yang mereka rasakan. Jadi, murni sebagai bentuk atau cara pengungkapan. Dan kalaupun memang benar adanya (perasaannya memang sesuai apa yang mereka sampaikan), maka yang dibutuhkan adalah teknik komunikasi. Yang dibutuhkan adalah pasokan sugesi.
Contoh :
🌹 "Susah apanya, Nak? Coba boleh ceritakan lebih lengkap alasannya."
🌹"Capek? Capek kenapa? Capek badan, atau..?"
🌹 "Ayooo ah. Pasti bisa. Jangan dulu menyerah."
Sebaliknya, celaka benar, jika kita menyikapinya dengan gestur yang tak diharapkan (sinis, judes, melotot, berkerut kening).
Lebih celaka lagi, saat kita menimpali dengan kata-kata. Kata-kata yang tak ramah tentu saja.
"Ya, emang kamu mah begitu anaknya."
"Segitu aja kok ngelesnya minta ampun."
"Ya udah, tereserah kamu aja lah."
"Mikir dong. Jangan lebay."
Lebih parah dari itu? Ada.
Bila hal ini dilakukan, berulang dan terus berulang, tanpa sadar kita tengah mewariskan energi negatif untuk anak-anak kita.
Bismillah. Semoga kita tak demikian. Dan kita yakini kembali bahwa jantungnya pengasuhan itu adalah KOMUNIKASI. Komunikasi yang baik. Semoga kita bukan orangtua yang gagap dalam urusan ini.
InsyaAllah, ini hal mudah, murah, dan mulia tentu saja.
Mari mendekati buah hati. Mari mendekati murid-murid kita di sekolah. Mari pelajarari manajemen komunkasi. Tentunya, tanpa kita terjebak pada ruang-ruang negosiasi.
Allohu'alam.
💐Semangat pagi dan salam pengasuhan💐
☀☀☀☀☀☀☀☀
Seorang anak, mengeluh kepada ibunya.
🔖 "Mamaaa. Aku capek. Aku mau udahan aja latihannya"
🔖 "Aku nggak bisa ah, Mam. Aku nyerah."
🔖 "Soalnya susah banget. Ga usah diterusin ah. Aku mau tidur aja, Mam."
🔖 "Iiiiih. Kok disuruh ngulang lagi sih, hafalannya. Aku kan udah bilang. Aku tuh bosen. Aku bisa migrain, kalau menghafal lagi menghafal lgi."
🔖 "Mama jangan maksa deh. Aku nggak minat, tahu nggak?"
Secara manusiawi, kita sebagai orangtua tentu merasa tak berkenan atau merasa kesal dengan spontanitas yang mereka sampaikan.
Namun yang perlu kita ketahui adalah bahwa apa yang mereka sampaikan adalah bagian dari bentuk EKSPRESI. Artinya, apa yang mereka ucapkan belum tentu SEDRAMATIS apa yang mereka rasakan. Jadi, murni sebagai bentuk atau cara pengungkapan. Dan kalaupun memang benar adanya (perasaannya memang sesuai apa yang mereka sampaikan), maka yang dibutuhkan adalah teknik komunikasi. Yang dibutuhkan adalah pasokan sugesi.
Contoh :
🌹 "Susah apanya, Nak? Coba boleh ceritakan lebih lengkap alasannya."
🌹"Capek? Capek kenapa? Capek badan, atau..?"
🌹 "Ayooo ah. Pasti bisa. Jangan dulu menyerah."
Sebaliknya, celaka benar, jika kita menyikapinya dengan gestur yang tak diharapkan (sinis, judes, melotot, berkerut kening).
Lebih celaka lagi, saat kita menimpali dengan kata-kata. Kata-kata yang tak ramah tentu saja.
"Ya, emang kamu mah begitu anaknya."
"Segitu aja kok ngelesnya minta ampun."
"Ya udah, tereserah kamu aja lah."
"Mikir dong. Jangan lebay."
Lebih parah dari itu? Ada.
- Berdiam diri tanpa ekspresi
- Menganggap tak penting dengan apa yang terjadi
- Angkat tangan alias merasa tak perlu mengambil langkah
Bila hal ini dilakukan, berulang dan terus berulang, tanpa sadar kita tengah mewariskan energi negatif untuk anak-anak kita.
Bismillah. Semoga kita tak demikian. Dan kita yakini kembali bahwa jantungnya pengasuhan itu adalah KOMUNIKASI. Komunikasi yang baik. Semoga kita bukan orangtua yang gagap dalam urusan ini.
InsyaAllah, ini hal mudah, murah, dan mulia tentu saja.
Mari mendekati buah hati. Mari mendekati murid-murid kita di sekolah. Mari pelajarari manajemen komunkasi. Tentunya, tanpa kita terjebak pada ruang-ruang negosiasi.
Allohu'alam.
💐Semangat pagi dan salam pengasuhan💐






0 komentar:
Post a Comment