Diet Genetik

Kembalikan sistem genetik tubuh anda menjadi anda yang prima dan fit.

Pentingnya menjaga kesehatan

Untuk mendapat kualitas hidup yang lebih baik dan prima.

Kembalikan keceriaan sel muda anda

Dapatkan perubahan genetik untuk hidup yang lebih baik.

Hidup sehat dan bahagia bersama keluarga

Meningkatnya kualitas kesehatan berbanding lurus dengan peningkatan kebahagiaan.

Percayakan Program Diet Anda Kepada Kami

Program TR90 memberikan perubahan nyata bagi tubuh anda dalam 90 hari.

Wednesday, October 17, 2018

KELUARGA MUSLIM




📝 Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman

📋  Keluarga Sukses Dunia Akhirat

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Bismillahirrahmanirrahim..

Kesuksesan dalam keluarga muslim seharusnya bukan hanya di dunia namun yang lebih utama adalah sukses di akhirat, dimana semua anggota keluarga dapat berkumpul di surga Allah Ta'ala.

Untuk memotret tentang KESUKSESAN KELURGA mari kita tadabburi QS. Ali Imran Ayat 33.

KESUKSESAN KELUARGA

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ
إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). (Ali Imran :33)

Ada 3 tipe sukses dalam keluarga :
1. Sukses Dunia (Keluarga Fir'aun dan Qorun)

Keluarga ini meraih kesuksesan materi di dunia dengan kemewahan dan harta yang sangat melimpah, namun di akhirat mereka tercerai berai (karena kebersamaan hanya ada di surga, di neraka tidak ada kebersamaan)

Inilah sejatinya yang disebut dengan "broken home" yang sesungguhnya. Bukan tercerai berainya keluarga di dunia, namun keluarga yang tidak mampu berkumpul di surga itulah sejatinya keluarga "Broken home".

2. Sukses Akhirat (Nabi Nuh dan Nabi Adam).

Mengapa di surat Ali Imran :33, tidak ada kata َآلَ (keluarga) untuk Nabi Nuh dan Nabi Adam? karena ada anggota keluarganya yang berkhianat dalam masalah aqidah dan risalah yang dibawa oleh suaminya.

Nabi Adam dan Nabi Nuh menjadi Role Model orang yang sukses dengan visi misinya. Mereka orangtua yang bersungguh-sungguh dan bersabar terus menerus melakukan dakwah pada kelurganya, namun Hidayah tetaplah milik Allah Ta'ala sehingga masih ada anggota keluarganya yang bermaksiat.

3. Sukses Dunia dan Akhirat (Nabi Ibrahim dan Imran)

Syarat keluarga sukses ada 3, yaitu :
1. Pasangannya baik
2. Punya anak yang baik
3. Cucu dan anak keturunan yang baik

Kriteria "Keluarga Terbaik"
√ Pasangan yang salihah:
Keluarga Ibrahim : Sarah, Hajar
Keluarga Imran : Hannah

√ Anak yang Shalih/ah :
Keluarga Ibrahim : Ismail dan Ishaq
Keluarga Imran :
Maryam

√ Cucu /Cicit yang shalih:
Keluarga Ibrahim : Ya'qub>> Yusuf
Keluarga Imran : Isa bin Maryam

BELAJAR DARI KELUARGA IBRAHIM

1. ORANGTUA SEBAGAI TELADAN

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Qs. At-Tahrim :6)

Perhatikan perintah Allah dalam ayat tersebut, Allah meminta kita menyelamatkan diri sendiri dulu baru keluarga kita.

Demikian juga jika kita tengok doa-doa Nabi Ibrahim, selalu diawali dengan berdoa untuk dirinya terlebih dahulu baru untuk keluarganya.
Diantaranya di ayat berikut :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (Qs. Ibrahim : 35)

Ibaratkan jika kita berada dalam sebuah kecelakaan pesawat dan dalam kondisi darurat. Maka sebelum memberikan pertolongan ke orang lain kita harus memberi pertolongan pada diri kita dulu, sebelum memasangkan masker oksigen ke orang lain maka kita pasangkan pada kita dulu. Karena bagaimana kita bisa menolong orang lain jika diri kita sendiri dalam keadaan kritis.

Karena itulah fokus pertama dalam pembelajaran parenting adalah orangtua. Yang harus pertama kali belajar adalah orangtua. Itulah mengapa dinamakan "parenting" bukan "childrening".

Jangan sampai kita mengharapkan anak shalih tapi malah lupa menshalihkan diri sendiri. Orangtua harus senantiasa belajar dan tidak boleh berhenti belajar dan memperbaiki diri. Karena anak yang malas belajar berawal dari orangtua yang malas belajar.

Maka, orangtua harus memiliki daya pengaruh pada anak sehingga dapat menjadi teladan untuk anak.
Mengapa harus menjadi teladan?
√ Keteladanan adalah NASEHAT yang menyentil
√ aturan untuk KITA bukan untuk ANDA
√ Anak lebih meniru apa yang DILIHAT dibandingkan apa yang didengar.

Teruslah memperbaiki diri, karena keluarga sukses adalah keluarga yang mampu HIJRAH bersama.

2. HARMONISASI PASUTRI

Salah satu kunci keberhasilan Nabi Ibrahim adalah memiliki istri-istri yang shalihah.
Karena pasangan yang shalih/ah adalah modal awal dari keberhasilan proses pengasuhan, karena itu awal dari gagalnya pengasuhan adalah salahnya memilih pasangan.

Hak anak adalah mendapatkan orangtua yang baik. Maka menikah bukan hanya perkara mencari istri dan suami tapi mencari ibu/ayah untuk anak-anak kita kelak.

Mengapa harus harmonisasi?
Ayah dan ibu adalah ibarat kemudi mobil, jika tidak harmonis maka rentan mogok atau celaka. Sebagian besar masalah anak bermula dari hubungan pasutri yang tidak harmonis.
Maka jika sudah terlanjur, segera perbaiki hubungan dengan pasangan sebelum fokus ke anak (perbaiki hubungan pasutri).

Sampah negatif istri yang didapat dari suami berdampak pada pengasuhan anak. Ibu yang suka marah pada anak merupakan salah satu tanda tidak bahagianya ia dengan suaminya.
Karena tugas suami adalah memberi kenyamanan pada istri.
Maka sebelum menjadi ayah dan ibu yang baik, jadilah suami dan istri yang baik terlebih dahulu.

Dasar dari HARMONISASI adalah AGAMA dan SALING RIDHO.

Contoh kisah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar yang ditinggal di Makkah bersama Ismail.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Qs. Ibrahim :37)

Singkat kisah...

Ketika sampai di Makkah Ibrahim memberi isyarat kepada Hajar agar menuju suatu tempat.
Dengan berbekal tempat makanan berisi kurma dan tempat minum berisi air, Ibrahim membelakangi Hajar dan kemudian melangkah meninggalkan keduanya. Hajar mengikutinya dan bertanya, “Hendak ke manakah, wahai Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun?"

Hajar mengulang pertanyaannya beberapa kali. Saat dilihatnya Ibrahim hanya diam, segera ia tersadar. “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?" tanyanya dengan kecerdasan luar biasa.
"Benar".Jawab Ibrahim
"Jika demikian maka Allah tidak akan menelantarkan kami,"Jawab Hajar dengan penuh ketakwaan. Kemudian Ia kembali ke tempat semula, sedangkan Ibrahim melanjutkan perjalanannya.

Nabi Ibrahim pergi bukan atas kemauannya sendiri, Ia pergi karena perintah dari Allah. Dengan berat hati Ia pergi melanjutkan perjalanannya sampai ke tsaniah, tempat dimana Hajar dan Ismail tidak bisa melihatnya. Ibrahim adalah Ayah yang begitu penyayang, Ayah yang begitu penyayang itu sangat sedih, namun ia yakin Allah menginginkan yang terbaik untuk hambaNya. Tanpa sepengetahuan Hajar, Ibrahim menghadapkan wajahnya ke Baitullah seraya mengangkat kedua tangannya dan berdoa," Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."

Pelajaran dari kisah tersebut :

√ Istri harus menjaga wibawa suami, menghargai suami.
Dampak istri yang tidak menghargai suami adalah anak menjadi tidak menghargai Ayahnya. Begitu pula sebaliknya jika suami tidak menghargai istri, maka anak menjadi tidak menghargai ibunya.

√ Sebelum menjadi ayah dan ibu yang baik jadilah suami istri yang baik dahulu. Penuhi hak pasangan terlebih dahulu sebelum memenuhi hak anak.

Jika ada perceraian maka, tetap jagalah adab. Di antara adab untuk pasangan yang telah bercerai yang sering terabaikan adalah menjaga nama baik masing-masing, bukan mengumbar aib mantan istri atau suami seperti yang lumrah terjadi hari ini di media sosial.
Jangan lupakan kebaikan masing-masing, terutama wanita yang mudah kufur terhadap kebaikan suami.

Ingat : Ada mantan suami atau istri, tapi tidak ada mantan ibu dan mantan ayah.

√ Harmonisasi adalah faktor yang sangat penting dalam mendidik anak, maka fokuslah pada kebaikan pasangan masing-masing.
Karena harmonisasi pasutri adalah magnet bagi anak.

Tips : Catat kebaikan-kebaikan (moment terbaik) bersama suami/istri untuk menjaga khusnudzon kita pada pasangan. Karena kebaikan mengapuskan keburukan.

3. MEMILIKI VISI BERKELUARGA

Dasarnya adalah surat At-Thur:21 dan At-Tahrim:6

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (At-Thur : 21)
[inilah Visi pertama keluarga muslim : Masuk surga sekeluarga]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim :6)
[Visi kedua : Terbebas dari api Neraka]

Visi Ibrahim (Qs. 35-37) :
√ Penyelamatan Aqidah
√ Pembiasaan Ibadah
√ Pembentukan Akhlakul Karimah
√ Pengajaran Lifeskilk (enterpreneur)

Orientasi hidup keluarga muslim adalah pada AKHIRAT, dan fokus utamanya adalah IMAN.
Orangtua yang orientasinya hanya dunia akan berakibat pula pada anak yang tidak memiki orientasi akhirat.

Bagaimana mengetahui visi misi kita sudah benar atau belum?
Pakai prinsip Ibnu Jarir Ath-Thobari, bahwa bagaimana obrolan rakyat sehari-harinya itulah cerminan bagaimana pemimpinnya.

Obrolan rakyat di masa khalifah Sulaiman adalah tentang keluarga dan anak.

Obrolan rakyat di masa khalifah Walid adalah tentang pembangunan.

Obrolan rakyat di masa khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah tentang ibadah, sholat, dll.

Jika diibaratkan Rakyat = Anak, dan Raja = Orangtua.

Maka, dengarkanlah dialog anak-anakmu apakah tentang dunia atau gentang akhirat. Maka itulah sejatinya kemana arah visi misi keluarganya saat itu.

*1. Mengapa pembahasan parentingnya dari sisi keluarga Ibrahim bukan dari Rasulullah?
Jawab :
Pembahasan tentang keluarga Rasulullah tak dapat lepas dari pembahasan Nabi Ibrahim, karena Rasulullah adalah buah dari doa Nabi Ibrahim.
Dalam riwayat Ibn Ishaq sebagaimana direkam, Ibn Hisyam di Kitab Sirah-nya; kala itu Sang Nabi ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab dengan beberapa kalimat. Pembukanya adalah senyum, yang disusul senarai kerendahan hati, “Aku hanyasanya doa yang dimunajatkan Ibrahim, ‘Alaihissalam..”

“Duhai Rabb kami, dan bangkitkan di antara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri; yang akan membacakan atas mereka ayat-ayatMu, mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah, serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaqksana.” (QS Al Baqarah : 129)

2. Bagaimana menyeimbangkan peran laki-laki sebagai Qowwamah (suami) dengan peran sebagai anak, saudara dan yang lainnya.
Jawab :
Qowwamah bagi laki-laki adalah fitrah.
Fitrah Qowwamah laki-laki adalah bersikap adil dan seimbang, kecuali jika fitrah tersebut rusak.

Sifat Keshalihan laki-laki :
1. Mengasah fitrah Qowwamah
2. Berbuat baik dan berhubungan baik dengan oranglain karena Allah. Karena orang shalih akan dipaksa oleh imannya untuk selalu ihsan.
3. Mendamaikan bukan memihak, jikapun memihak ia memihak kebenaran bukan berdasar kesenangan.
4. Berbuat baik dari yang terdekat (ini ajaran islam). Keshalihan yang hakiki dimulai dari orang yang terdekat. Karena kebaikan itu harusnya bertambah bukan berpindah.

3. Bagaimana cara menghadapi suami yang galak, gampang marah sampai anak-anak saja tidak nyaman dengan kehadiran ayahnya dan berharap si ayah tidak di rumah (dinas luar)? Istri sudah coba memberi nasihat dengan baik pada suami sambil memijatnya, namun tetap tidak ada perubahan.
Jawab :
1. Jaga harga diri suami di depan anak (menjaga kewibaan suami).
Istri harus melindungi keqowwamahan suami dan menjaga keshalihan anak meskipun tidak ada orangtuanya.
Maka jika anak mencaci ayahnya saat ayahnya tidak ada di depannya, maka harus dicegah atau dihentikan jika tidak maka kita membiarkan anak kita berbuat dosa dan merusak wibawa suami.
(potong kemaksiatan dengan cara yang baik)
2. Menceritakan kebaikan-kebaikan suami kepada anak.
3. Mencegah lisan kita untuk curhat pada anak, bila perlu curhatlah dan menangislah hanya kepada Allah. Kita boleh curhat kepada orang tersekat kita dengan tujuan bukan untuk mengumbar aib suami tapi hanya untuk meminta solusi.
4. Sekesal-kesalnya kita jangan hilangkan kelembutan kita pada objek dakwah kita (suami).
Karena semakin shalihah istri, harusnya suami semakin merasakan kemanfaatkan ilmu dan keshalihan kita.
Jadilah kita (istri) ayat qauniyah yang menjadi kunci dakwah bagi keluarga kita.
5. Suami kita adalah hasil produk pengasuhan dari keluarganya yang mungkin belun sempurna. Maka tugas kita adalah menyempurnakan kekurangan atau kegagalan yang ada.

Wallahu a'lam..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh: manis.id

📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis

💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637

Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

WINTER IS COMING?

#sharingparenting

🍀🌼🍀🌼🍀🌼🍀🌼🍀

*Elly Risman & Miftahul Hidayah

🍀🌼🍀🌼🍀🌼🍀🌼🍀


Pekan lalu, Presiden kita menggunakan metafor “Game of Thrones (GOT)” dalam pidatonya pada IMF-World Bank Annual Meeting 2018. Isi pidato itu menuai puja-puji sekaligus kontroversi.

Saya, tidak ingin masuk dalam pusaran itu.

Karena bagi saya penggunaan metafor itu saja sudah menunjukkan siapapun yang terlibat dalam tertuangnya text pidato itu, benar-benar tidak paham bahwa GOT adalah ancaman bagi anak bangsa.

Mengapa? Karena dalam film ini tidak hanya mengandung kekerasan dan kata-kata kotor, adegan merokok dan ngobat, tapi juga pornografi (adegan seksual termasuk incest), bahkan LGBT ada didalamnya!

Tidak percaya? Klik link ini https://www.imdb.com/title/tt0944947/parentalguide?ref_=tt_stry_pg

Apa hendak dikata, semua sudah terjadi di kancah international pula!!
Bagaimana dengan orangtua Indonesia?

Saya ingin mengetahui reaksi orang tua Indonesia minimal 16 ribu orang yang menjadi followers instagram kami. Dibantu Miftahul Hidayah (Pipi) yang menangani social media YKBH, kami lakukan survei kepada 16 ribu followers instagram tersebut.

Hasilnya, sebagian besar menyayangkan mengapa GOT diviralkan orang paling berpengaruh di negeri ini.

Mereka umumnya khawatir anak dan remaja mereka mencari tau karena penasaran, apalagi pihak TV yang menyiarkan film itu membuat meme dengan foto presiden untuk iklan season baru. Mereka menyesalkan mengapa pemerintah tidak membuat metafor yang lebih bijak dari itu.

Namun, sebagian lagi menunjukkan ortu tidak tau apa ancaman GOT bahkan mengaku bangga sekali dengan metafor itu.

Di tengah kekhawatiran dan ketidaktahuan orangtua, ancaman pengasuhan anak mereka: Narkoba, pornografi, kecanduan games dan LGBT di era digital ini tidak mengenal status ekonomi maupun domisili. Selagi anak punya gadget dan mata, semua memiliki ancaman yang sama.

Akhir akhir ini, gelombang gerakan LGBT begitu masif sudah masuk ke kalangan anak-remaja maupun profesional.
Era digital mempercepat guliran gerakan itu hingga salah satu Pemkot mengaku kecolongan.
http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2018/10/12/populasi-lgbt-capai-ratusan-pemkot-cimahi-akui-kecolongan-431510

Sedangkan di kalangan profesional, kita lihat sendiri atas nama kinerja, kebhinekaan dan HAM, perusahaan-perusahaan besar menempatkan aktivis LGBT di posisi strategis.

Mereka mereka ini  mendorong siapa saja untuk ‘coming out’ dan merasa bangga dengan pilihan orientasi seksualnya. Toh diri mereka ada di posisi kerja yang bergengsi! Sudah, tidak perlu takut lagi...

https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/10/10/pge6e6384-grup-gay-asal-karawang-beranggotakan-6000-orang

Http://www.pikiran-rakyat.com/tags/lgbt

Jadi saudaraku, para orangtua... Bangunlah, siap dan siaga sebagai orangtua!

Sadarlah! Sungguh kita bukan akan menghadapi bencana besar tetapi kita SUDAH DALAM BENCANA!

Winter is coming?

Winter kita adalah bencana yang paling besar itu, karena kita tidak sadar ada bencana!

--------------------

Ayah Bunda, insyaAllah bersama kita sangat bisa melawan bencana itu. Allah selalu berikan solusi bersamaan dengan tantangannya...

Jadi marilah kita TEGAKKAN 7 PILAR PENGASUHAN

☘ Pilar 1 : Sadarilah bahwa menjadi orang tua itu amanah, SIAP-SIAGA dan berilmulah. ☘

Bencana pengasuhan bukan hanya mengancam orang tua yang anaknya sudah remaja, tetapi juga Anda yang anaknya masih belia.

Anak kita tidak pernah memilih siapa orangtuanya. Jangan sampai mereka menuntut di hari akhir terkena bencana karena kita sebagai orangtuanya lalai dalam mengasuh mereka.

Kita harus mengasuh dengan kesadaran dan ilmu, sebelum masalah MEMAKSA kita untuk mencarinya.

Ingatlah, ILMU SEBELUM AMAL.

Jadi bagaimana kita bisa beramal (mengasuh) tanpa berilmu? Yang berilmu saja babak belur menerapkannya.

Berikut ini  beberapa contoh beratnya tantangan pengasuhan kita di era digital ini:

1⃣ Akibat kecanduan internet 2 remaja kita menjadi pasien rumah sakit jiwa!

https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4590


2⃣ Hasil penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati yang didanai oleh Kementerian PPPA menunjukkan dampak pornografi pada anak yang kecanduan TERBUKTI mengakibatkan volume otak mereka MENYUSUT di bagian yang membedakannya dengan binatang!

http://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2405802899446881&id=221502844543575


3⃣ Beberapa bulan yang lalu : WHO menyatakan kecanduan games sebagai gangguan mental!

https://sains.kompas.com/read/2018/06/19/192900123/who-resmi-tetapkan-kecanduan-game-sebagai-gangguan-mental


Kalau melihat ciri-ciri dari kecanduan yang disebutkan WHO (ada dalam kumpulan tweet saya di atas), sudah berapa banyak anak anak kita yang sudah kecanduan?

Sehingga, meskipun pak Presiden mengajak atau menganjurkan anak-anak kita untuk membuka diri terhadap perubahan teknologi dan menciptakan penghasilan ratusan juta perbulan dari games, kita punya sikap yang jelas karena kita berilmu!

https://economy.okezone.com/read/2018/08/26/320/1941569/diskusi-dengan-pemain-mobile-legends-jokowi-ini-profesi-baru-dengan-penghasilan-ratusan-juta

Masalahnya anak-anak mungkin sudah kecanduan dengan games yang disebutkan bapak Presiden dan bila yang dimaksudkan bapak Presiden adalah menjadi atlet eSport, itu merupakan sesuatu yang berbeda.

https://medium.com/@muhamadnurawaludin/kecanduan-games-vs-esports-4edb9fc85d97?fbclid=IwAR31oA9NzMIvj9WVV0mD74-wQZ2IoPHEeEwfTc2MxZGu6i_-in7GzMX4t5k

Bayangkanlah saudaraku, kalau kita tidak siap siaga dan tak berilmu menjadi orangtua yang mengasuh anak di era digital!


☘ Pilar 2 : Ayah, hadirlah untuk memenuhi pundi-pundi jiwa anak kita. ☘

Bertahun-tahun yang lalu saya dan kawan-kawan saya di YKBH, berdasarkan riset sederhana yang kami lakukan, sudah meneriakkan bahwa INDONESIA ini a FATHERLESS COUNTRY.

Ayah ada secara fisik, nampak pagi, nampak sore, namun ayah tidak menyapa anaknya secara emosi. Ayah tidak menyapa anaknya secara spiritual.

Secapek apapun ayah, se-tidak bisanya ayah ngomong, ayah HARUS. KARENA ALLAH.

Peran ayah banyak dan tak tergantikan!

Berdasarkan penelitian dilakukan intensif di luar negeri, hadirnya ayah dalam pengasuhan akan menghasilkan anak yang memiliki kecerdasan emosi lebih bagus, potensinya lebih optimal, anak-anak tumbuh lebih simpatik, hubungan sosialnya lebih baik, percaya diri tinggi, dan secara akademis dan finansial lebih sukses. Bayangkan!

Dan.. penelitian kami menunjukkan bahwa bila ayah hadir dalam pengasuhan lebih besar, kemungkinan anaknya tidak adiksi pornografi!

Jadi ayah, pulanglah ke rumah... Ayah bukan hanya pencari nafkah... ayah adalah ayah, yah..

Jika ibu single parent, hadirkan ayah pengganti. Rasulullah itu 'nggak punya ayah' tapi ada kakeknya dan pamannya. Bismillah, Semangat!!


☘ Pilar 3 : Rumuskan dan sepakatilah Tujuan Pengasuhan ayah dan bunda! ☘

Bermain bola saja ada gawang yang dituju, bagaimana mungkin mengasuh anak tidak ada tujuan?

Jadi duduk dan rumuskanlah serta sepakati apa yang ingin ayah bunda capai dalam mengasuh anak anak ke depan.

Jangan terlalu fokus pada akademik semata!

Faktanya, terdapat hubungan yang signifikan antara stres akademik dengan ketergantungan dan kecanduan internet pada remaja SMA.

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=526497&val=10778&title=Hubungan%20Stres%20Akademik%20Dengan%20Kecanduan%20Internet%20Pada%20Remaja%20SMA%20di%20Kecamatan%20Andir%20Kota%20Bandung

Selain itu, bisa dipelajari juga hasil penelitian kami diatas, bagaimana hubungannya kecerdasan dan kecanduan pornografi.


☘ Pilar 4 : Banyaklah berdialog dengan Benar, Baik, dan Menyenangkan. ☘

Berdialoglah dengan BENAR sebagaimana Allah mengajarkan dalam alquran dan perilaku nabiNya, dengan BAIK sebagaimana cara otak bekerja, dan dengan cara yang menyenangkan perasaan.

Sebagai orang tua, kita ini secara tidak sengaja sering melakukan kekeliruan dalam bicara yang membuat anak kita sumpek dan lelah jiwanya, sehingga menjadikan games, pornografi dan narkoba jadi pelariannya.


☘ Pilar 5 :  Orang tua penanggung jawab utama penanaman nilai agama! ☘

Ikat jiwa anak kita dalam ketaatan pada pemilikNya.
Bukankah tujuan utama pengasuhan adalah mejadikan anak kita penyembah HANYA ALLAHnya saja?

Anak kita adalah salah satu tanggung jawab utama yang Allah pertanyakan di yaumul hisab sebelum peran kita sebagai anak dan berbagai peran kita dalam keluarga dan anggota masyarakat?

Maka, sebelum kita memilihkan tempat pendidikan terbaik, pondasi dasar dan pemeliharaan ketaatan serta akhlak yang baik tetaplah hak dan kewajiban kita.

Dari pengelaman praktek dan juga dari seminar-seminar saya, saya menemukan mengapa anak mudah sekali melakukan hal-hal yang tidak patut dan salah besar seperti kecanduan games, pornografi, narkoba bahkan seks bebas, adalah karena pondasi agama dari rumah hampa!

Punya gadget canggih, game tersedia, jaringan wifi di rumah, TV berlangganan, tapi anak tidak pernah (jangankan diajarkan) diperkenalkan saja tidak tentang keharusan sebagai muslim/ah untuk menahan pandangan dan menjaga kemaluannya.

Penelitian yang kami lakukan sungguh menjadi bukti kebenaran firman Allah, bahwa: Kalau pandangan mata tidak ditahan, otak rusak di bagian fungsi mulianya yang membedakan manusia dengan binatang, maka kemaluan tidak bisa dikendalikan!

Maha benar Allah dengan segala FirmanNya.


☘ Pilar 6: Persiapkan anak kita menghadapi masa baligh dengan pemahaman yang utuh. ☘

Bukan hanya sekedar cara bersuci dan ciri-ciri mimpi basah dan menstruasi.

Jauh sebelum itu, biasakan anak memiliki kesempatan dan kemampuan untuk BMM (berpikir, memilih, dan mengambil keputusan) atas nama dirinya. Karena setelah baligh ia harus mampu mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya.


☘ Pilar 7 : Ajarkan anak untuk bijak berteknologi. ☘

Anak kita hidup di hutan digital, yang mungkin kita sendiri juga tidak mengenal betul ada apa saja di dalamnya, dengan perkembangan yang luar biasa cepatnya.

Jika kita tidak mendidiknya bijak berteknologi, bagaimana jika ia ‘tersesat’, bertemu hal-hal sangat buruk yang ada di internet dan tidak tau cara menghindarinya?

Maka, milikilah pertimbangan yang matang sebelum memberikan gadget dan internet pada anak.
✅Kapan ia diberi gadget?
✅Apa alasannya?
✅Sudahkah menjelaskan apa fungsi utamanya?
✅Apa manfaat dan resiko penggunaan gadget dan internet?
✅Keterampilan dan pengetahuan apa saja yang perlu ia miliki sebelum menjadi pengguna aktif gadget?
✅Apa saja yang boleh dan tidak boleh terkait penggunaan gadgetnya?
✅Berapa lama durasinya?
✅Apa konsekuensi yang disepakati jika terjadi pelanggaran aturan?


Ayah Bunda, mengasuhlah karena Allah…
Balutlah semua ikhtiar kita dengan doa!

Allah melarang kita meninggalkan dzuriyyatan dhiafan (QS Annisa ayat 9). Keturunan yang lemah, yang kita khawatirkan mereka tidak sanggup menanggung beban dan ancaman zaman.

Tegakkan seluruh pilar pengasuhan. Jangan terus berputar dengan persoalan hari-hari. Karena anak masih kecil lalu merasa aman terhadap ancaman, karena belum menikah lalu nanti saja belajar berlelah-lelah.

Sebaliknya, Allah mencintai dzurriyatan thoyyibatan (keturunan yang berkualitas).

Yang digambarkan Allah SWT laksana sebuah pohon yang baik (syajarotun toyyibah). Yakni, akarnya menghujam ke perut bumi (akidah yang kokoh), batang dahannya menjulang ke langit (ibadah yang benar) dan berbuah di setiap musim (akhlak yang karimah).

InsyaAllah, kita bisa!

Wallahua'lam bi shawab

Monday, October 15, 2018

ENERGI YANG TERWARISKAN

Parenting Keluarga

☀☀☀☀☀☀☀☀

Seorang anak, mengeluh kepada ibunya.

🔖 "Mamaaa. Aku capek. Aku mau udahan aja latihannya"
🔖 "Aku nggak bisa ah, Mam. Aku nyerah."
🔖 "Soalnya susah banget. Ga usah diterusin ah. Aku mau tidur aja, Mam."
🔖 "Iiiiih. Kok disuruh ngulang lagi sih, hafalannya. Aku kan udah bilang. Aku tuh bosen. Aku bisa migrain, kalau menghafal lagi menghafal lgi."
🔖 "Mama jangan maksa deh. Aku nggak minat, tahu nggak?"

Secara manusiawi, kita sebagai orangtua tentu merasa tak berkenan atau merasa kesal dengan spontanitas yang mereka sampaikan.

Namun yang perlu kita ketahui adalah bahwa apa yang mereka sampaikan adalah bagian dari bentuk EKSPRESI. Artinya, apa yang mereka ucapkan belum tentu SEDRAMATIS apa yang mereka rasakan. Jadi, murni sebagai bentuk atau cara pengungkapan. Dan kalaupun memang benar adanya (perasaannya memang sesuai apa yang mereka sampaikan), maka yang dibutuhkan adalah teknik komunikasi. Yang dibutuhkan adalah pasokan sugesi.

Contoh :
🌹 "Susah apanya, Nak? Coba boleh ceritakan lebih lengkap alasannya."
🌹"Capek? Capek kenapa? Capek badan, atau..?"
🌹 "Ayooo ah. Pasti bisa. Jangan dulu menyerah."

Sebaliknya, celaka benar, jika kita menyikapinya dengan gestur yang tak diharapkan (sinis, judes, melotot, berkerut kening).

Lebih celaka lagi, saat kita menimpali dengan kata-kata. Kata-kata yang tak ramah tentu saja.
"Ya, emang kamu mah begitu anaknya."
"Segitu aja kok ngelesnya minta ampun."
"Ya udah, tereserah kamu aja lah."
"Mikir dong. Jangan lebay."

Lebih parah dari itu? Ada.

  1. Berdiam diri tanpa ekspresi
  2. Menganggap tak penting dengan apa yang terjadi 
  3. Angkat tangan alias merasa tak perlu mengambil langkah


Bila hal ini dilakukan, berulang dan terus berulang, tanpa sadar kita tengah mewariskan energi negatif untuk anak-anak kita.

Bismillah. Semoga kita tak demikian. Dan kita yakini kembali bahwa jantungnya pengasuhan itu adalah KOMUNIKASI. Komunikasi yang baik. Semoga kita bukan orangtua yang gagap dalam urusan ini.

InsyaAllah, ini hal mudah, murah, dan mulia tentu saja.

Mari mendekati buah hati. Mari mendekati murid-murid kita di sekolah. Mari pelajarari manajemen komunkasi. Tentunya, tanpa kita terjebak pada ruang-ruang negosiasi.

Allohu'alam.

💐Semangat pagi dan salam pengasuhan💐

MEMPERSIAPKAN ANAK BERPISAH DARI ORANGTUA



وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلْوَعْدُ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَٰحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ

فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَآ إِلَىٰٓ أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ

Dan mereka berkata: "Bilakah (terjadinya) janji ini (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?".
Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.
Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya."
(QS. Ya Sin : 48-50)

Idealnya kita sebagai orangtua meninggal pada saat anak-anak sudah mapan dan sukses namun tidak ada yg bisa menjamin kapan kita akan meninggal.
Karena kita tidak tahu kapan akan meninggal jadi wasiat itu harusnya dibuat dan dipersiapkan jauh-jauh hari.
Secara syariat jika akan bepergian jauh maka orangtua memberikan wasiat berisi pesan-pesan kepada anak terutama anak pertama untuk menjaga adik-adiknya seandainya orangtua tidak kembali.
Mendidik anak pada hakekatnya adalah mempersiapkan anak berpisah dari orangtua agar menjadi anak yg mandiri meliputi :
☑ Mandiri aqidahnya termasuk ibadahnya
☑ Mandiri cara berpikirnya seperti apa tujuan hidupnya, mau jadi apa nantinya
☑ Mandiri akhlaknya
☑ Mandiri finansialnya

Prinsip mempersiapkan anak berpisah dari orangtua :
1⃣ Sejak anak berusia 7 tahun lakukan akad perpisahan dengan anak dengan redaksi kurang lebih :
"Nak kamu diurus oleh ayah ibu tidak selamanya maksimal hanya sampai kamu berusia 25 tahun (atau tergantung keputusan orangtua)."
>> versi lengkap redaksi akad ada pada video

Kenapa usia 25 tahun?
Karena umumnya anak lulus kuliah itu 23 tahun ditambah 2 tahun toleransi masa mencari kerja.
Bahkan jika menurut syariat Islam ortu wajib mengurus anak hanya sampai anak baligh, setelahnya adalah shodaqoh.
Khusus anak laki-laki usia 18 tahun secara fisik sudah tidak tinggal di rumah orangtua untuk meminimalisir konflik.
Jika kuliahpun pilih kampus yg letaknya tidak satu kota dengan orangtua.
Jika ingin belajar ke luar negeri ortu harus menguatkan anak dulu di rumah terutama bab aqidah dan cara berpikirnya.

Kenapa harus ada akad perpisahan dengan anak?
Agar anak tahu batasan dan berpikir.
Akad ini juga penting agar anak tahu bahwa orangtua tidak mengurus dia selamanya.
Ulangi akad perpisahan ini saat anak baligh (haid/mimpi basah), usia SMA, kuliah dan saat akan menikah.

Agar anak menjadi mandiri harus dilatih. Yg namanya dilatih itu orangtua harus ada di dekat anak, anak didampingi dan prosesnya bertahap.
Contoh salah kaprah tentang melatih kemandirian anak adalah :
~ Kantin kejujuran itu menguji bukan melatih kejujuran karena tidak ada materi pembekalan sebelumnya dan tidak ada pendampingan dari orang dewasa
~ Market Day untuk anak sebelum baligh karena secara syariat seorang penjual harus sudah baligh untuk melakukan transaksi jual beli. Bahkan menurut madzhab Syafi'i dalam transaksi jual beli harus ada akad yg dilafadzkan.
~ Anak diperbolehkan/dibiarkan menggunakan aplikasi gojek padahal dalam term of service gojek yg boleh memesan adalah orang yg minimal berusia 21 tahun atau sudah menikah (tapi jarang orangtua yg membaca sampai detail ketentuan penggunaan ini)

2⃣ Sejak umur 7 tahun katakan pada anak bahwa dia punya tugas di rumah
Yg termasuk dalam kemandirian anak adalah :
1. Mandi sendiri
2. Makan sendiri
3. Istinja' atau bilas sendiri
4. Sikat gigi sendiri
Point no. 1-4 ini harus dikuasai oleh anak sebelum usia 7 tahun.
5. Membereskan kasur/kamar sendiri
6. Menyimpan barang yg dipakai pada tempatnya
Konsekuensi jika anak tidak mau melakukan : tidak boleh melakukan aktivitas selanjutnya sebelum menyelesaikan tugasnya
7. Mencuci peralatan makan yg sudah dipakai
8. Menutup aurat
9. Tidur wajib dipisah
10. Berlatih shalat
11. Mengelola uang
12. Diberikan satu tugas rumah tangga (chores)
Tugas rumah tangga ini adalah menyumbang tenaga untuk kepentingan rumah tangga bukan tugas pribadi.
⛔ Sesuatu yg menjadi kewajiban anak tidak boleh diberi reward

Point no. 5-12 dilakukan saat anak mulai berusia 7 tahun.

Konsep ketaatan :
1. Semua anak harus mau disuruh orangtua tapi anak tidak boleh menyuruh orangtua, yg boleh adalah meminta tolong pada orangtua
2. Tugas anak adalah patuh pada orangtua
3. Orangtua menyuruh anak harus dengan kaidah :
- Jangan sembarangan menyuruh, lihat kondisi anak
- Ada ketaatan wajib dan sunnah jadi orangtua juga harus bisa memilih mana yg lebih penting

🌾 Quotes dari Abah Ihsan :
🌟 "Menjadi orangtua yg baik dan bertanggung jawab itu capek, tapi akan lebih capek jika anak tidak diurus."

🌟 "Warisan terindah orangtua adalah perlakuan penuh cinta pada anak kita."

🌟 "Daripada meninggalkan warisan berupa harta kepada anak lebih baik diberi warisan pendidikan setinggi-tingginya."

💡 Warren Buffet, salah satu orang terkaya di dunia tidak mengajari anaknya bagaimana agar menjadi orang kaya tapi mengajari anaknya bagaimana menghargai uang.
💡 Yg menjadi kekhawatiran seorang Lukman Al Hakim setelah dia meninggal adalah apakah anaknya masih menyembah Allaah Ta'ala setelah beliau tidak ada.
💡Bahkan Rasulullaah Shallallahu’alayhi wa salam tidak meninggalkan warisan berupa harta kepada anak-anak beliau.

Barakallaah fiik, semoga bermanfaat.
Resume oleh : Dianka Subiyanto

📝 Matapena YUK JOS COMMUNITY Semarang "MEMPERSIAPKAN ANAK BERPISAH DARI ORANGTUA" 28 September 2018 bersama Abah Ihsan

Dahsyatnya Doa Ibu


Dr Fauzia Addabbus, seorang psikolog yang amat populer di Kuwait pernah menulis di Twitter tentang rahasia-rahasia doa seorang Ibu jika tiap malam ia mendoakan anak-anaknya, dan ternyata efek dari Twitter itu telah mengubah jalan hidup banyak orang.

Twitnya sebagai berikut:

"Aku bersumpah demi Allah, wahai setiap Ibu, agar jangan tidur tiap malam sebelum engkau memohon pertolongan Allah dan mengabari-Nya bahwa engkau rida atas anak-anakmu seridha-ridhanya, dan aku bersumpah demi Allah agar engkau tidak menghijab/ menghalangi ridha-Nya kepada anak-anakmu."

Dan aku memintamu wahai para ibu agar jangan engkau tidur tiap malam sebelum kau angkat kedua tanganmu sambil menyebut satu persatu nama anak-anakmu dan mengabarkan kepada-Nya bahwa engkau ridha atas mereka masing-masing.

Begini doanya:

"Allohumma innii usyhiduka annii roodhiyah 'an ibnii/ibnatii* ... (sebut nama anak-anakmu satu persatu)... tamaamar-ridho wa kamaalar-ridho wa muntahayir-ridho. Fallohumma anzil ridhwaanaka 'alaihim biridhooii 'anhum"

(Ya allah aku bersaksi kepadaMu bahwa aku rida kepada anak-anakku (.......) dengan rida paripurna, rida yang sempurna dan rida yang paling komplit. Maka turunkan ya Allah keridaanMu kepada mereka demi ridaku kepada mereka).

Kemudian setelah berselang beberapa minggu setelah Twitter tersebut, tiba-tiba aku (Dr.Fauziyah) dikejutkan oleh seorang ibu yang berkata:

Bahwa aku telah mengubah kehidupannya secara total, dan sekarang dia merasa dalam kenikmatan yang tak terlukiskan karena akibat doa itu terhadap dia dan anak laki-lakinya yang berumur 22 tahun. Maka berceritalah si Ibu itu:

Sejak kelahiran anakku itu aku hidup dalam penderitaan karenanya. Dia tak pernah shalat dan bahkan jarang mandi , dia sering berdebat panjang denganku, dan tak jarang dia membentakku dan tak menghormatiku, walaupun sudah sering aku mendoakannya.

Maka ketika membaca Twit-mu aku berkata: "Mungkinkah omongan ini benar? Tampaknya masuk akal? Dan seterusnya...."

Dan akhirnya kuputuskan untuk mencoba anjuranmu walaupun aku tak yakin bahkan mentertawaimu. Lalu setelah seminggu mulai berubah nada suara putraku kepadaku, dan pertama kali dalam hidupku aku tertidur dalam kedamaian, dan di dalam diriku ada sedikit syak.

Dan kemudian kudapati putraku mandi, padahal aku tak menyuruhnya. Minggu kedua dan aku terus mendoakannya sesuai anjuranmu, ia membukakan pintu untukku dan menyapaku "Apa kabar ibu?" dengan suara lembut yang tak pernah kudengar darinya sebelum itu.

Aku gembira tak terkira walaupun aku tak menunjukkan perasaanku kepadanya sama sekali. 4 jam kemudian aku menelponnya di ponselnya, dan ia menjawabku dengan nada yang berbeda dari biasanya: "Bu, aku di samping masjid dan aku baru akan shalat waktu Ibu menelponku."

Maka akupun tak mampu menahan tangisku, bagaimana mungkin ia yang tak pernah shalat bisa mulai salat dan dengan lembut menanyaiku apa kabar? Tak sabar aku menanti kedatangannya dan segera kutanyai sejak kapan engkau mulai shalat?

Jawabnya, "Aku sendiri tak tahu Bu, waktu aku di dekat masjid mendadak hatiku tergerak untuk shalat."

Sejak itu kehidupanku berubah 180 derajat, dan anakku tak pernah lagi berteriak-teriak kepadaku dan sangat menghormatiku. Tak pernah aku mengalami kebahagiaan seperti ini walaupun aku sebelumnya sering hadir di majelis-majelis zikir dan pengajian-pengajian.

*

Ibu adalah harta karun yang kita sia-siakan. Betapa tidak? Karena beratnya kehidupan sehari-hari seringkali seorang ibu melupakan doa untuk anak-anaknya, sering juga dia menganggap bahwa pusat-pusat bimbingan psikologi adalah jalan lebih baik untuk perkembangan anak-anaknya.

Padahal justru doa Ibu adalah jalan tersingkat untuk mencapai kebahagiaan anak-anaknya di dunia dan akhirat. Jangan pernah bilang: "Ah anakku masih kecil, ngapain didoakan?"

Bagaimana jika engkau menunggu mereka makin besar dan dewasa, dan menjadi tua, disaat mereka lebih butuh akan doa-doamu , padahal mungkin waktu itu engkau sudah di haribaan Ilahi?

Jadi doakan mereka mulai sekarang, dan jadilah orang yang bermurah hati dengan doa-doamu untuk mereka. Allah telah mengkaruniai kita para ibu sebagai wasilah bagi anak-anak kita dalam hubungan mereka dengan Allah melalui doa-doa kita untuk mereka.

Kita bisa melakukannya kapanpun kita mau, dan kita bisa mengetuk pintu-Nya kapanpun kita mau dan Allah tak pernah mengantuk dan tak pernah tidur. Selamat berdoa

*
Dinukil dari
28 Juli 2018, https://goo.gl/FSPrbd

*

IMPRINTING

Oleh: Kak Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher

 Apa jawaban kita bila ditanya: Mana yang lebih baik dalam pengasuhan anak:
 Menanamkan banyak aturan sejak dini atau menanamkan aturan sedikit demi sedikit sesuai usia perkembangan anak?

 Sebelum menjawab, yuk kita lihat dulu apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala perlihatkan di alam sebagai ibroh (pelajaran) untuk kita. Seperti halnya dulu Allah memperlihatkan burung gagak yang mengubur saudaranya yang mati untuk memberi pelajaran pada Qabil yang kebingungan memperlakukan jenazah saudaranya: Habil, yang baru saja dibunuhnya.


Fenomena alam yang kita lihat adalah peristiwa menetasnya anak itik dan apa yang terjadi sesudahnya. Kita tentu sudah paham bahwa anak itik yang baru menetas akan mengikuti siapapun atau apapun yang ada di dekatnya. Para ahli psikologi menamakan fenomena ini IMPRINTING. Tidak peduli dimana dan kapanpun, seperti itulah perilaku yang diperlihatkan setiap anak itik yang baru menetas. Sehingga dapatlah kita katakan bahwa peristiwa imprinting ini bersifat menanamkan dan melekatkan kesan kuat ke dalam ingatan.

Menurut kamus psikologi yang ditulis DR Kartini Kartono dan Dali Gulo, Imprinting adalah pembiasaan atau perkembangan respon yang sangat cepat dalam menghadapi stimulus yang mengarah kepada perkembangan kritis. Sifat semacam ini merupakan mekanisme pembiasaan yang dimiliki sejak awal kehidupan, sehingga sangat sulit untuk diubah.

Para ahli psikologi telah sepakat bahwa fenomena Imprinting juga terjadi pada anak manusia. Terutama pada 6 tahun pertama kehidupan mereka. Lebih tepatnya mereka menyebut hal ini dengan nama Filial Imprinting, saat dimana anak-anak meniru perilaku dan karakter para orangtua mereka.

Maka sungguh benarlah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam saat bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu anhu: “Tidaklah anak yang lahir itu melainkan dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi. Sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan sempurna, apakah kamu merasa ada anggota tubuhnya yang terputus?”

Hadis Rasulullah ini diperkuat oleh fakta-fakta sains. Salah satunya seperti yang dikatakan oleh penulis Essay Amerika, James Arthur Baldwin, yang menulis: “Anak-anak mungkin tidak terlalu bisa mendengar dan menangkap kata-kata dari orangtua mereka, tetapi anak-anak tidak pernah gagal meniru perilaku para orangtua.”

Jadi faktor orangtua sangat besar pengaruhnya dalam membentuk perilaku anak.

Nah, setelah mengetahui hikmah yang kita dapat dari alam tadi, sudahkah Anda dapat memilih jawaban yang pasti dari pertanyaan kita di awal:

Mana yang lebih baik dalam pengasuhan anak: Menanamkan banyak aturan sejak dini atau menanamkan aturan sedikit demi sedikit sesuai usia perkembangan anak?

Jadi jawabannya adalah: menanamkan banyak aturan sejak dini lebih baik dalam pengasuhan anak. Alasannya adalah karena fenomena Imprinting. Ingat seperti yang dikatakan Kamus Psikologi di atas: fenomena ini terjadi di awal kehidupan dan sangat sulit diubah di kemudian hari.

Berikutnya timbul pertanyaan: jenis peraturan seperti apa yang sebaiknya banyak ditanamkan? Jawabannya: jenis peraturan yang memupuk akhlaq yang baik.

Mengapa akhlaq yang baik? Mengapa bukan cara belajar efektif atau cara berprestasi tinggi, atau hal-hal lain yang keren-keren? Karena saat ini anak lebih sulit melihat akhlaq baik di lingkungan sekitar mereka dibanding masa dulu saat orang-orang lebih hidup bermasyarakat dan tidak individualis.

Mengapa akhlaq baik? Karena akhlaq baiklah yang kelak terbukti akan membuka pintu-pintu kesuksesan jauh lebih banyak daripada hasil pendidikan sekolah termahal sekalipun.

Pertanyaan terakhir: Bagaimana cara mengajarkan anak-anak akhlaq yang baik? Jawabannya kembali kepada fenomena Imprinting. Cara mengajar anak-anak akhlaq yang baik adalah dengan cara memberinya contoh lewat perilaku orangtua.

Kesimpulannya? Agar anak-anak kelak sukses, berkepribadian unggul dan shalih, orangtua harus mencontohkan akhlaq yang baik sejak dini. Ingat, fase imprinting itu ada di usia 6 tahun kehidupan awal. Bila terlewat, akan sangat sulit untuk membentuknya kembali.

Allahu a’lam.

Salam Smart Parents!