Saturday, April 24, 2021

Mutiara Riyadush Shalihin 10. Yang Diterima oleh Allah




💎 Mutiara Riyadush Shalihin 
10. Yang Diterima oleh Allah
Bab 1 : Ikhlas & Menghadirkan Niat (Ayat Kedua)

🌿 Ayat Kedua: QS. Al Hajj: 37

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik."

Allah ingin menjelaskan kepada kita bahwa yang sampai kepada Allah adalah keikhlasan dan ketakwaan kita saat beramal dan beribadah, bukan sebatas fisik ibadah yang kita kerjakan. 

Dalam buku tafsir klasik, seperti Ibnu Katsir, kita diterangkan, bahwa dahulu orang jahiliyah ketika menyebelih hewan qurban di Mekkah, mereka mencipratkan darah hewan sesembelihan mereka ke Ka'bah dan menggantungkan daging hewan-hewan kurban mereka itu di Ka'bah dengan niat agar diterima.

Maka para sahabat Rasulullah berkata, "Kami lebih berhak untuk melakukan hal tersebut." (Karena mereka orang beriman). Kemudian Allah subhanahu wata'ala menurunkan ayat tsb. 

Allah terangkan, bahwa daging-daging itu tidak akan sampai ke Allah, yang sampai adalah keikhlasan dan ketakwaan kalian. 
Jadi tidak perlu berambisi mengalahkan mereka karena hal itu tidak diperintahkan oleh Allah. Kerjakan yang diperintahkan Allah, lalu ikhlaslah..

Ayat ini membuka mata kita bahwa dalam beramal yang harus kita fokuskan adalah bagaimana agar ibadah kita sampai kepada Allah. 

Bukankan keinginan para sahabat itu baik? mereka ingin mengalahkan orang jahiliyah, dan mempersembahakan daging itu kepada Allah.. tidak ada keinginan menjatuhkan orang lain, menjegal orang, mendzolimi orang lain, hanya ingin memberikan yang terbaik kepada Allah. 
Tapi Ketika itu tidak pernah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka itu itu bukan bagian dari ketakwaan. 

Karena ketakwaan adalah menjalankan apa yang Allah dan RasulNya perintah dan syariatkan, lalu ikhlaskan niat kita Ketika menjalankan hal itu. 

🍁 Oleh karena itu, fokuslah pada bagaimana amalan itu sampai kepada Allah. 
Itulah yang ditekankan oleh sahabat besar, ulamanya ulama, sepupu Rasulullah, sekaligus menantu Rasulullah, Ali bin Abi Thalib radiyallahu'anhu. 
Beliau mengatakan: 

“Jadilah kalian orang-orang yang lebih fokus memikirkan (dan mengupayakan) bagaimana amal ini diterima Allah, dibanding fokus kepada mengerjakan amal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah..”

"....Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa" (QS Al Maidah : 27)

🍁 Abdullah bin Mas’ud, radiyallahu'anhu berkata:
“Kalau aku bisa mengetahui, Allah menerima satu amalanku saja.. itu lebih aku cintai dibanding aku memiliki emas sepenuh bumi”

🍁 Abu Darda radiyallahu'anhu berkata yang serupa: 
“Kalau aku bisa memastikan Allah menerima satu shalatku saja, itu lebih aku cintai dari mendapat dunia dan seisinya”.. 

🍁 Dan para ulama ulama lain: 
“Kalau aku bisa memastikan Allah menerima satu shalatku saja, aku siap mati saat itu juga..”

Karena yang Allah terima adalah dari orang bertakwa, maka jika Allah terima satu amalanku, berarti aku termasuk orang yang bertakwa. Dan jika bertakwa, itulah husnul khotimah.

🍁 Imam Nawawi mengajak kita merenung, 
Jangan hanya sebatas beramal, berbuat, berkarya. Namun pastikan amal dan karya kita ikhlas hanya untuk Allah. 
Allah ingin agar kita hanya mencari wajahNya. Maka sebanyak apapun amal kita kalau tidak ikhlas, tidak diterima oleh Allah.

🍁 Hadist Nabi: 
Ketika menjelaskan 3 orang yang pertama kali di adzab di api neraka. Orang yang meninggal di kancah jihad, orang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Alquran, serta seorang yang diberi keleluasan harta oleh Allah. Bukankah mereka didunia tidak termasuk ahli maksiat?
Bukankah mereka didunia dikategorikan orang-orang yang dianggap soleh oleh masyarakat?    

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
“Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada Hari Kiamat ialah seorang laki-laki yang mati syahid. 
Ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya pada berbagai nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya (memiliki Kesehatan yang baik, sudah diberikan fisik, harta, kecerdasan, kemampuan menggunakan senjata..  karena untuk berjihad butuh itu semua) dan ia pun mengakuinya. 
Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?’ 
Ia menjawab, ‘Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Dusta.. Kamu berperang agar namamu disebut-sebut sebagai orang yang pemberani. Dan itu sudah kau dapatkan di dunia.’ 
Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

“Selanjutnya adalah orang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Alquran. Ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya pada berbagai nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya (Kau sudah aku beri kepintaran, kecerdasan, waktu untuk belajar, untuk bisa beli paket internet untuk kajian online, dan kau telah kuberi suara yang merdu..), dan ia pun mengakuinya. 
Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?’ 
Ia menjawab, ‘Saya telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Alquran karena-Mu.’ 
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Dusta..". "Kamu belajar agar kamu disebut-sebut sebagai orang alim dan kamu membaca Alquran agar kamu disebut-sebut sebagai seorang qari’, (agar mendapat gelar Ulama, Ustadz, Kiai, agar diakui sebagai anggota majelis taklim. Itu prestise di lingkungan kita, aktivis dakwah, panitia kajian.. Penuntut ilmu.. ) dan kenyataannya kamu telah disebut-sebut demikian (dan gelar itu semua telah kau dapatkan di dunia..).’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

“Kemudian seorang yang diberi keleluasan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dikaruniai beragam harta benda, lantas ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada dirinya. Ia pun mengakuinya. 
Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang Engkau buka melainkan pasti saya berinfak padanya karena-Mu. (kasih pembangunan masjid, kasih nasi box ojol, kasih masker, semua dikasih, ga ada satupun terlewat)’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Dusta.. kamu melakukan hal tersebut agar kamu disebut-sebut sebagai orang yang dermawan. Dan kenyataan kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

Na'udzubillah..

🍁 Dengan konsep seperti ini, kita akan semangat beribadah meski sedikit, karena kita tahu apa yang Allah inginkan dari kita. Karena kita tau yang Allah inginkan adalah amalan ikhlas kita meskipun sedikit. 

🍁 Sebagaian orang sedih karena tidak bisa beramal banyak, karena tidak punya uang, lalu minder. Jangan minder, sebab Allah melihat niat kita apa. 

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham". 
Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” 
Beliau jelaskan, “Ada seorang yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” 
(HR. An Nasai)

Betul 1 dirham, tapi itu 50% dari harta yang ia miliki. Separuh hartanya. 
Betul 100ribu dirham, tapi itu hanya 1 atau 2 persen dari harta yang ia miliki. 
Jika parameternya angka, itu tidak adil. Dengan niat dan keikhlasan, balasan Allah mengalahkan nominal itu sendiri. 

Ingatlah.. 
Bukan fisik yang sampai, tapi keikhlasan dan niat untuk melakukan yang terbaik..

***

Sari Kajian Youtube oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.
▶️ Link Materi Kajian: 
https://www.youtube.com/watch?v=aAQvOysGV4M

🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹

💎 Catatan Ramadhan 1442 H, Day 10
MT Al Madani 
IG: @mtalmadani125

💎 Catatan ini disusun secara singkat dan penuh dengan kekurangan. 
Mohon dapat diikuti kembali rekaman kajian untuk mendapatkan keutamaan materi dan ilmunya.
kesempurnaan hanya milik Allah subhanahu wata'ala.

0 komentar:

Post a Comment