💎 _*Mutiara Riyadush Shalihin*_
*05. Kunci Keberkahan (Bagian 3)*
*Kunci Keberkahan Ketiga*
💠 Sebagaimana yang dikatakan oleh beliau rahimahullah langsung, kuncinya adalah: *Guru*.
Al Imam An Nawawi mengatakan langsung tentang masalah ini. Tentang pentingnya guru dalam kehidupan kita sebagai penuntut ilmu, seorang muslim, seorang awam, yang ingin mencari jalan yang benar, yang ingin mendekat kepada Allah.
Kata beliau
_*"Sesungguhnya, guru-guru seseorang di dalam ilmu adalah orang tua atau ayah dalam agama"*._
Dan ini adalah sebuah kaidah para ulama.
Ulama mengatakan orang tua dibagi dua: orang tua nasab yaitu orang tua langsung, dan orang tua dalam agama yaitu guru kita.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _‘Sesungguhnya kedudukanku terhadap kalian seperti kedudukan seorang ayah, aku mengajari kalian semua….’_ (HR Abu Daud).
Guru itu, jembatan yang menyambungkan kita dengan Allah. Tidak bisa orang awam mendekat kepada Allah tanpa guru. Jika ingin diberkahi Allah, kita harus berguru, belajar dengan guru kita. inilah kunci para ulama.
💠 Imam Nawawi sangat menjaga adab dengan gurunya. Beliau sangat berkhidmat kepada guru.
Beliau mengatakan, seorang murid diperintahkan oleh Allah untuk mendoakan guru dan berbuat baik kepada gurunya. Apapun yang kita beri kepada guru kita tidak bisa membalas jasa-jasanya.
Maka harus dengan doa. Dengan berbuat baik. Doakan di saat sujud, saat tahajud, saat haji, saat mengitari ka’bah, doakan guru guru kita. Lalu berbuat baiklah kepada mereka. Ingat kebaikan-kebaikan mereka, puji mereka ketika tidak dihadapannya, ingat jasa-jasanya, bersyukur dan berterimakasih kepada mereka. Agar keberkahan bersama kita.
💠 Dalam kehidupan Imam Nawawi semenjak awal hingga menjadi ulama besar, jejak langkah beliau tidak pernah luput dari seorang guru.
Dari usia 10 tahun, saat lari diajak main sambil membaca Quran. Syeikh Yasin datang ke gurunya, ke ayahnya, untuk memberi pesan.
Dibawa ayahnya ke damaskus, beliau bertemu Jamaluddin Abdul Kahfi. Setelah berguru, kemudian beliau diarahkan ke Syeikh AL Imam Tajuddin, seorang ulama besar, mufti Syam, murid Al Izz bin Abdis Salam.
Imam At Tajuddin lalu mengarahkan beliau ke Al Imam Ishak bin Ahmad Al Maghribi. Beliau cukup lama dengan Imam Ishak Bin Ahmad dan beliau menjadi murid kesayangan beliau.
Kata imam Nawawi, “aku terus dampingi guruku, dan guruku kagum kepadaku karena beliau melihat betapa semangatnya aku mendampingi beliau, mulazamah kepada beliau. Dan aku tidak suka menghabiskan waktu berkumpul yang tidak bermanfaat dengan kumpulan manusia."
Imam Nawawi adabnya terhadap guru-gurunya sangat tinggi. Beliau berkhidmat kepada gurunya. Dan guru beliau pun sangat sayang kepadanya. Diataranya Imam Nawawi menyiapkan air di ceret/kendi dibawakan kepada gurunya untuk berwudhu gurunya.
💠 Maka lihat *jalan hidup Imam An Nawawi selalu diarahkan oleh Ulama*. Disanalah penuh keberkahan.
Dari situ beliau belajar belajar dan belajar tidak hanya dari ilmu tapi juga dari kehidupan mereka, para guru beliau.
Contoh salah satu guru beliau, Imam Ibrahim bin Isya. Imam Nawawi mengatakan, beliau belajar dengannya kurang lebih 10 tahun.
"Dan selama 10 tahun itu aku tidak pernah melihat dari beliau sesuatu yang tidak mengenakkan, yang kasar, dst.. beliau adalah sosok pemaaf dan lapang dada luar biasa. Kebaikannya dengan orang lain, juga rasa sayangnya kepada umat. Sosok yang sangat langka kebaikannya, suka membantu, suka mensupport, aku tidak pernah meliaat orang yang menjaga waktunya sebaik beliau."
Imam Nawawi melihat sosok hebat guru-gurunya yang baik, lapang dada, memaafkan orang. Mereka semua orang-orang yang rajin beribadah, maka begitupula muridnya.
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
*Kunci Keberkahan Keempat*
💠 Para ulama mengatakan, dibalik karya karya masterpiece, beliaulah sosok yang berusaha *menjaga waktu* beliau semaksimal mungkin. Beliau berusaha menjaga waktu agar tidak terbuang percuma. *Agar waktu selalu digunakan dalam rangka ketaatan kepada Allah*.
Maka para ulama mengatakan, beliau, Imam An Nawawi, adalah pemimpinnya umat islam dalam ilmu dan amal. Di waktu yang sama beliau gabungkan. Menuntut ilmu luar biasa, ibadahnya pun luar biasa.
Beliau adalah _Alimul ubad, abidun ulama_, _ulamanya para ahli ibadah, dan ahli ibadahnya para ulama_.
💠 Beliau pernah bercerita bagaimana beliau menuntut ilmu dan menghabiskan waktu. Kata beliau Ketika beliau belajar di damaskus madrasah rahiyah.
“Aku menghabiskan waktu dua tahun dan aku tidak pernah meletakkan sisi tubuhku ke atas permukaan tanah..”
Imam dzahabi: ini adalah sebuah majas untuk menunjukkan bagaimana beliau berjuang dan menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu siang dan malam, beliau tidak sengaja tidur, beliau tidur jika ketiduran. Imam Nawawi, memaksa dirinya belajar-belajar-belajar, tidak tidur kecuali kelelahan yang sangat.
Beliau membagi waktunya, belajar, baca, research, menulis, mendatangi guru, dan beribadah.
Para ulama mengatakan, beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktu, baik pagi maupun malam.
Malam baginya bukan waktu istirahat. Kecuali kelelahan yang sangat, ketiduran. Beliau isi waktu beliau selalu dalam kesibukan dengan ilmu. Sampai sampai kalau beliau pergi ke sebuah tempat, di jalan, pasti beliau sambil membaca atau murojaah hafalan, memegang bukunya. Membaca, mencatat, memurojaah. Mengulang ngulang ingatan beliau, apa yang baru didapatnya tadi.
💠 Imam Suyuti: beliau adalah sosok yang tidak pernah menyia-nyiakan sedetik sekalipun diluar ketaatan kepada Allah. Tidak membuang waktunya walaupun sesaat, semenit, sejam, untuk sesuatu yang bukan dalam rangka ketaatan kepada Allah.
Beliau membaca, sholat, dzikir, tadarus, pergi ke guru, saling menasihati, menulis, membaca Al Quran, puasa -- Waktu diatur sedemikian rupa.
💠 Beliau pernah ditanya tentang waktu tidurnya.
"Kalau aku sangat lelah, maka aku akan rebahkan diriku ke buku sesaat saja. Lalu aku akan bangkit lagi..".
Beliau seringkali begadang, dalam rangka belajar dan ibadah.
Banyak Ulama menukilkan hal ini (Imam Suyuti, As Sakhawi, Ibnu At Thar): beliau setiap harinya mengikuti 12 kajian, membaca dihadapan gurunya, 12 pelajaran. Belajar berbagai macam ilmu.
(Fiqih, Bahasa, Nahwu, Asma Al-rijal, Al Wasith, Al Muhadzab, Shahih Bukhori, Shahih Muslim, Al Luma', Ushul Fiqih Hadist, dst..)
Tidak hanya 12 kajian, setelah mengaji 12 kajian bukan selesai, beliau Kembali murojaah, diulang lagi, membuat catatan kajian hari tersebut. Membuat keterangan dari kalimat yang pelik, ibarat-ibarat yang rumit, bahasa yang asing, beliau catat. Dan beliau mengamalkan ilmunya. Maka beliau mengalami percepatan yang luar biasa.
*Itulah keberkahan waktu..*
Beliau bisa mengerjakan aktivitas 2 hari yang padat hanya dalam 1 hari. Beliau masih sempet berkhidmat kepada guru, masih sempat membaca Al Quran, berdzikir, shalawat, menyiapkan air untuk gurunya..
💠 Lalu, bagaimana dengan waktu kita?
Benar kata Rasulullah:
Ada 2 nikmat yang disia siakan - ditelantarkan, dibuang, dilemparkan- oleh banyak manusia: nikmat sehat dan waktu luang.
Abdullah bin mas’ud: "aku tidak pernah menyesal sebagaimana penyesalanku terhadap sebuah hari yang begitu tiba terbenamnya matahari sedangkan amalku tidak bertambah."
Hasan al bashri: saya bertemu generasi orang orang yang benar benar menjaga waktunya yang melebihi kalian menjaga hartanya (uangnya).
Imam Ibnul Qayyim:
Menyia nyiakan waktu, itu lebih bahaya dan lebih fatal daripada kematian. Karena menyia nyiakan waktu akan membuat gagal mendapatkan ridho Allah, dan gagal di akhirat (terpisah dari Allah dan akhirat). Adapun kematian membuat terpisah dengan dunia dan ahli dunia.
Apa jawaban Allah kepada orang orang yang menyesal di hari kiamat kelak? yang meminta dikembalikan ke dunia saat bicara waktu?
_Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun._ (QS. Fathir : 37)
💠 Allah memberi keberkahan kepada waktu Imam Nawawi, karena beliau berjuang dengan sungguh-sungguh.
_"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjuang) di (Jalan) Kami, Kami akan benar-benar menunjukkan Jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan._ (Q.S al-Ankabut ayat 69)
Allah tidak pernah menyelisihi janji-Nya. Karya Imam Nawawi, hasil dari janji Allah.
Karya yang hidup hingga ratusan tahun, bahkan ribuan tahun..
bersambung..
▪️▪️▪️
_Sari Kajian Youtube oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri._
▶️ Link Materi Kajian:
https://www.youtube.com/watch?v=VqGFjLFYfX4
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
💎 _Catatan Ramadhan 1442 H, Day 5_
_MT Al Madani_
💎 Catatan ini disusun secara singkat dan penuh dengan kekurangan.
Mohon dapat diikuti kembali rekaman kajian untuk mendapatkan keutamaan materi dan ilmunya.
kesempurnaan hanya milik Allah subhanahu wata'ala.